Saturday, November 24, 2007

Be careful for what you wish.......

Manusia dikaruniai tuhan dengan 2 mata, 2 telinga, tapi 1 mulut. Dan itu pasti ada maksudnya. Yang pasti maksud itu lebih dari sekedar alasan kesimetrisan dan alasan estetik lainnya. Aku sendiri percaya salah satu alasan itu adalah agar kita manusia melihat dan mendengar dua kali lebih banyak dari pada bicara. Atau bisa juga artinya sebelum membuka mulut dan bicara lihat dan dengar lah dulu banyak-banyak, sehingga apa yang keluar dari mulut itu bisa benar-benar menjadi kebaikan.

Termasuk ketika menyampaikan doa untuk orang lain. Doa untuk teman atau saudara yang menikah misalnya. Belakangan aku sering memperhatikan ini. Doa yang sering aku lihat disampaikan : semoga pernikahannya langgeng sampai kakek-nenek'.

Ingat Koes Hendratmo, Ray Sahetapi? Pernikahan pertama mereka rasanya persis seperti doa yang sering disampaikan itu.

Orang disebut kakek/nenek karena 2 hal menurutku : sudah punya cucu, atau tampilan wajah. Umur 40-an saja orang sudah bisa punya cucu. intinya hitungan umur bisa sangat muda tapi sebutan kakek/nenek bisa sudah melekat.

Jadi hati-hati dalam doa. Aku sendiri lebih suka mendoakan supaya pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan.

Thursday, November 22, 2007

Challenge the Paradigm !!

Seperti aku tulis di postingan sebelumnya, dari seluruh sesi presentasi pertama tentang thesis kami yang paling aku nikmati adalah komentar dan saran-saran dari Derrick Neal. Jitu, simple, diterangkah dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan sangat inspiratif. Salah satunya yang paling berkesan untuk aku komentar sekaligus saran yang satu ini : Challenge the Paradigm !!'.

Pertama kali Derrick komentar soal ini saat satu temanku mempresentasikan rencana thesis dia tentang pembentukan air defence posture. Di akhir temanku presentasi Derrick komentar gini :'Surjadi, if you do consulting and you start it with saying : we need this, this, this, and this. They will say : No, no, no, and no. But, let say you said to your boss : we dont need air defence!'. They probably will say : No, we need it !, and you have chance to talk more about your idea. Jadi Derrick menyarankan temenku itu untuk pertama explore apa memang Indonesia perlu ada air defence? New Zealand tidak punya air power, bahkan Yordania tidak punya dan kerjasama dengan Israel. Jadi kalau ada musuh yang menyerang yordania dari udara, israel yang akan handle itu.

Bagian lain yang menurutku bisa jadi inspirasi buatku untuk mengambil data saat Derrick memberikan komentar tentang collecting primary data untuk thesis temanku tentang efektifitas Human Right Handbook dalam operasi militer tentara di daerah konflik, misalnya di aceh. salah satu primary data temanku itu akan di dapat dari interview. Derrick bilang :'if you ask them : was that handbook effective, they probably will say : oh yes, it was.. but how valid it is?. Derrick mengusulkan untuk membuat test singkat yang isinya pertanyaan2 dari buku itu, pre-test, tanpa persiapan, untuk melihat apakah isi buku itu sudah embeded dengan mereka?'. lalu right after the test lakukan interview sehingga bisa dicross check 2 hasil itu. And it will be the powerfull primary data.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Nggak salah deh Derrick itu emang pantes jadi dosen favorite :)'. Kalau kalian pikir dia professor dan ngomongnya pasti rumit dan ribet, you are absolutely wrong!

Untuk yang perlu pembicara tentang Change Management atau Strategic Management, believe me he is one of the best. Dia akan senang sekali pasti kalau ada yang mau undang dia disini. Dia senang sekali ke Indonesia. Januari tahun depan Derrick datang lagi, nah buat yang mau minta dia jadi pembicara, silahkan ya :)


Kemarin dia cerita, untuk tahun depan wisuda ITB bulan Juli sama dengan wisuda di Defence Academy Cranfield, UK. Dia kan Dekannya, tapi dia sudah bilang sama bos-nya kalau dia milih ke ITB :)'. dia bilang pertama karena ada associate dean-nya yang bisa wakili dia di sana, kedua karena wisuda disana boring dan di ITB lebih menarik:)'. Wisuda angkatan 1 Juli tahun lalu dia hadir. Yang paling dia berkesan adalah tempatnya yang gede, angklung dan paduan suaranya. dia bilang itu amazing sekali.

Well, see you at Sabuga on July then, sir..:)

We are here to serve you

Baru kali ini saat sekolah, sebagai mahasiswa aku merasa sangat-sangat dilayani. Baru kali ini merasa sebagai orang yang membayar benar-benar dapat apa yang seharusnya didapat oleh orang yang membayar. Dulu sebagai mahasiswa boro-boro merasa dilayani, yang ada justru harus melayani dosen. Melayani dosen yang jadwal mengajarnya terserah dia, melayani dosen yang mengajarnya tidak enak tapi tidak menyediakan mekanisme bagi mahasiswa untuk mengatakan itu, melayani dosen yang nilainya entah kapan keluarnya, melayani dosen yang minta jadwal bimbingan tugas akhir yang sulit dll..dll.

Di kuliahku kali ini aku mendapat pengalaman sebaliknya.

Seperti pernah aku cerita sebelumnya, program Management Pertahanan ini adalah kerjasama ITB dan Cranfield University, UK. Yang aku tau dan rasakan Cranfield men-support kurikulum dan dosen untuk semua matakuliah sampai 5 tahun program ini berjalan. Along the process sedikit demi sedikit pengajaran matakuliah ini ditransfer ke pihak ITB, sampai akhirnya nanti semua dosen akan full tanggung jawab ITB.
Dan aku bisa lihat Cranfield sungguh-sungguh sekali memberikan support ini.
Semua dosen yang di datangkan, baik asli dari Cranfield ataupun dari Indonesia (Prof. Dr. Banyu Prawita – UNPAR) adalah yang terbaik di bidang mereka. Dan untuk semua proses belajar-mengajar nya ini sebagai mahasiswa aku benar-benar dilayani. Misalnya :

Dosen yang selalu datang sesuai jadwal, lebih awal malah. Jadi tidak ada cerita mahasiswa sudah datang ke kampus, sampai di pintu ada pengumuman : kuliah hari ini ditiadakan, dst dst.

Yang paling kentara bedanya adalah tentang mekanisme ’perbaikan’ yang ada baik melalui kuisioner maupun evaluasi langsung untuk tiap modulnya. Dan ini dilakukan konsisten. Jadi tiap kali satu modul berakhir kami mahasiswa akan diberikan satu lembar quisioer isinya mengevaluasi tentang pelaksanaan modul itu, materinya, dosennya dll, dan ada kotak comment disana yang kita bisa menulis apa saja. Dan kuisioner ini bukan cuma formalitas untuk mereka, tapi betul-betul ditindaklanjuti, terlihat dan terasa bedanya. Misalnya : angkatan sebelumku banyak yang menulis kalau dosennya mengajar terlalu cepat bicaranya, sementara ini bahasa inggris. Waktu angkatanku semua dosen diawal modul selalu mulai dengan : kalau saya terlalu cepat please do not hesitate, rise your hand. Aku melihat ternyata memang speed mereka bicara di depan kelas dan saat mengobrol waktu break itu beda. Pernah juga aku komentar kalau aku perlu tiap dosen mulai dengan big picture dari tiap modul, karena aku melihat tidak semua dosen mulai dengan itu. Dan semua dosen berikutnya mulai dengan big picture saat mengajar.

Yang mungkin paling ’luxury’ untuk disini adalah bahkan minta penggantian dosen pun mungkin, karena dianggap tidak sistematis saat mengajar, memberi nilai terlambat, dll..dll. Dan itu sudah 2 kali terjadi selama program ini berjalan. Ini juga contoh dari hasil dari kuisioner yang ditulis mahasiswa.
Aku sempat ngobrol panjang dengan 2 dosenku dari Jerman, kebetulan dua-duanya namanya Pieter. Mereka tanya aku ditengah-tengah kuliah bagaimana mereka mengajar, apa ada keluhan? Apa ada masukan?’. Mereka bilang mereka tidak tahu apa tahun depan mereka akan mengajar kami lagi? Karena itu tergantung hasil kuisioner kami nanti. 2 Pieters itu bilang : so, you are who hold the power of our future here.
Terlihat jelas kan kalau mereka disini untuk melayani kami mahasiswa, bukan sebaliknya.

Terakhir yang terasa untukku saat ini adalah kesungguhan mereka membantu process thesis.
Jadi tanggung jawab proses thesis ini sebenernya di pihak ITB. Pembimbing pertamanya harus dari ITB, pembimbing kedua boleh dari ITB, universitas lain, dan Cranfield. Tapi untuk yang tidak sama sekali dibimbing oleh pihak Cranfield mereka tetap menyediakan untuk tiap mahasiswa dosen Cranfield sebagai advisor, in case mahasiswa itu butuh. Ini juga ternyata tidak dilakukan sebagai formalitas saja oleh Cranfield.
Waktu angkatan 1 proses menentukan pembimbing dan advisor ini dilakukan dengan membaca semua proposal thesis oleh penanggung jawab untuk program ini dari pihak Cranfield, Prof. Derrick Neal, Dean (Dekan) Defence Academy, lalu di diskusikan dengan pihak ITB, Dr. Bambang K. Hadi, Koordinator program studi management pertahanan, di ITB. Jadi Derrick datang ke ITB untuk proses ini. Ternyata menurut Derrick agak sulit mereka menentukan hal ini hanya dari membaca proposal thesis yang hanya beberapa lembar. Dari evaluasi ini untuk angkatanku pendekatannya lain.

Derrick khusus terbang ke Bandung untuk melihat presentasi singkat tiap mahasiswa tentang proposal thesis dan progress nya sampai saat ini. Jadi dia harapkan bisa lebih precise memberikan dosen pembimbing dan advisor dari Cranfield. Ternyata penerbangan dia kali ini kacau balau sampai dia harus kehilangan koper-nya. Jadi penerbangan dia dari london itu memang terlambat 6 jam, jadi dia sampai di Dubai terlambang, pesawat penghubungnya sudah terbang, jadi dia naik Malaysia Airlines dari Dubai. Karena dia pindah-pindah pesawat itu sementara barangnya tidak sama dia, jadilah gak tau dimana koper-nya sekarang. Poor Derrick . Tapi dia santai-santai aja ke kampus, tidak jet lag dan tidak stress, tetap dengan humornya yang gak pernah gagal bikin kita ketawa itu :).

Semua presentasi dilakukan dalam 2 hari (26 presentasi). Hari pertama dari jam 09.00 – 14.00 (10 orang). Hari kedua dari jam 09.00 – 15.00 (16 orang). Derrick dan Pak Bambang tidak berkurang antusias-nya sampai presenter terakhir. Kebetulan aku mengikuti semua presentasi, pertama karena aku dokumentasikan, kedua karena aku tertarik ingin tau semua topik teman-temanku, ketiga karena aku menikmati tiap kali Derrick memberikan komentar dan masukan. Bisa jadi inspirasi untuk aku handle thesisku juga.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dr. Bambang K Hadi menyampaikan commentnya dengan ekspresif

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Prof. Derrick and Bamgang Setioutomo

Kesimpulanku ada 2 yang ITB dan semua dosen lain bisa belajar, pertama paradigma yang ada harus : we are here to serve you, student !’, bukan sebaliknya. Percaya, ini yang akan memberikan output universitas yang baik, world class if you like. Yang kedua continues improvement. 2 kata terakhir ini sering sekali kita dengar, tapi tidak semua orang punya keinginan dan bisa melakukannya.

Thursday, November 01, 2007

Searching out the meaning of life

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
A wonderful man....

His name is Kevin Sweeney. I call him 'big brother', well he is physically big but bigger in his heart. He lives in Philadelphia, USA. We've 'met' 10 years ago'. I was about 20 years and he was 33. Since the first time we met I knew it wouldn't be a short relation. He is really nice and fun to talk with. We have a lot of things in common. We both love to see the movie, jacky chan and jet lee are our favorites, he enjoys the Broadway theater and i love to hear about it :). I like to read the book and he likes to give the book :)'. i used to study engineering and he works as locomotive engineer. We both like to talk about life, what we want and plan about our life. But the most common thing here is we both was born on October.


He always remember my birthday and never fail to surprise me by sending the birthday present. Like what i got yesterday.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
What a wonderful card and book, bro...'.


He never missed all my important times, such as graduation, promotion, and winning the competiton...and He said he always waiting for my wedding day :)'. It seem you should be more patient about that, bro :)


He shows me the truth meaning of friendship, loving and caring other people, which makes our life meaningful.

I'm speechless to describe him further. I'm just so lucky to have him.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Special ordered by him to celebrate my bachelor graduation - Class of 2001

Ayo Bertani !

Ini judul tayangan di metro tv. Aku termasuk 'switched audience' kalau nonton tv, tidak pernah manteng di satu stasiun tv atau satu program. Waktu sedang pindah-pindah channel itu karena tidak ada program yang menarik ketemulah aku program ini.


Judulnya simple tapi jelas maksudnya. Mengajak orang bertani. Tayangan hari itu mengajak bertani jagung. Ini cerita tentang provinsi Gorontalo yang sukses membangun perekonomiannya dengan bertumpu pada pertanian jagung sebagai awal. Tayangan ini memberi aku beragam rasa : kagum, bangga, terharu, gemes, dll. Aku kagum dengan strategi pemerintah sana membangun tempat ini, kedengaran simple, jelas, dan menyeluruh. Bangga sekali aku melihat bagaimana strategi itu berhasil diterjemahkan menjadi nyata. Karena di negara ini strategi ini dan itu sering sekali terdengar tapi sedikit sekali yang menemukan wujud nyatanya. Waktu melihat hamparan pertanian jagung yang luas seperti melihat tayangan lahan pertanian di film2 hollywood aku merasa haru sekali, akhirnya ada juga tempat di Indonesia yang seperti itu. Dan ini bikin aku gemes banget kenapa daerah lain, misalnya asalku, Palembang – sumatra selatan- tidak bisa seperti ini ?


Aku harus menyebut Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo, sebagai tokoh sentral di semua tayangan yang terlihat ini. Aku masih ingat 2 tahun lalu saat pulang lebaran aku melihat di TVRI Fadel Muhammad menjadi tamu acara yang dipandu oleh Dewi Motik, aku mendengar Fadel berbagi apa yang sampai saat ini dilakukan di Gorontalo dan apa rencana-rencana kedepannya. Tapi ini tidak disertai tayangan2 seperti yang aku lihat kemarin. Menurutku strategi dan slogan yang dibangun jelas dan simple sekali sehingga dapat dipahami sampai ke masyarakat terbawah. Semua orang seperti tau harus apa, misalnya kalau punya tanah tau harus ditanam apa, pembuat makanan tau harus mengolah apa, universitas tau harus meneliti apa, pedagang tau harus berdagang apa, yang punya angkutan transportasi tau harus menyiapkan jenis kendaraan apa, mungkin sampai pembuat permen pun tau harus membuat rasa apa :)'.


Berbeda dengan Sumsel dengan slogan-nya yang terpampang dimana-mana yaitu Sumsel Lumbung Energi Nasional'. Waktu baca slogan ini responku mungkin sama dengan warga sumsel lain : OK, Sumsel memang kaya akan sumber energi: batubara, minyak dan gas, so what!, aku harus apa nih? Harus nambang di depan rumah? Harus pakai gas banyak-banyak? Harus jualan minyak?


Tidak merakyat sama sekali menurutku slogan ini. Dan lebih parahnya kondisi sumsel yang kaya sumber energi ini sama sekali tidak terasa oleh masyarakat. Paling tidak ini yang aku rasakan : Sumsel punya banyak batubara, ini terlihat dan terasa jelas karena setiap hari saat melintas rel kereta api seringkali harus menunggu lama waktu kereta pengangkut batubara yang kami sebut kereta babaranjang lewat, tapi listrik sering sekali mati, bahkan harus mengalami giliran pemadaman.Sumsel kaya akan minyak, Prabumulih dan Pendopo adalah sumber minyak dari jaman dulu, tapi masyarakat disana malah hanya kebagian jalan yang tidak pernah mulus dimana-mana karena selalu dibongkar pasang untuk keperluan pipa aliran minyak. Sampai lebaran kemarin aku ke Prabumulih tidak ada yang berubah dari kota ini, tidak terlihat pembangunan yang berarti dan tentu saja kondisi jalan-jalan tetap seperti dulu. Tempat lain seperti Muba (Musi Banyu Asin) kaya akan gas, sekarang jadi penyuplai gas untuk jawa barat melalui pipa gas yang panjang. Jalur pipa gas ini harus melewati tanah penduduk termasuk tanah pertanian. Ada ganti rugi memang untuk sawah yang dilewati ini, tapi ini kan menghilangkan mata pencaharian orang yang mungkin bisanya cuma bertani. Kalau ditanya si pemilik sawah ini pasti tau dia slogan lumbung energi itu, tapi coba ditanya dia bisa apa atau dapat apa dari sana? Pasti tidak tau apa-apa dia, pdahal selama 17 tahun dia hanya akan melihat perginya gas dari daerahnya ke jawa barat tanpa dia dapat manfaat apa-apa dari sana.


Sebagian besar penduduk sumsel masih petani dan berjiwa petani, hasil buminya banyak dari mulai sayuran, beras, rambutan bahkan duku dan durian yang sudah punya nama.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Salah satu kabupaten di Sumsel


Berikut beberapa foto kondisi daerah tepat di belakang kantor bupati ini. Namanya kampung Terukis, aku dibesarkan di tempat ini, saat lebaran yang baru lewat tadi aku berkesempatan berkunjung ke sini.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kondisi jalan disebelah kantor bupati (kontras sekali bukan?)

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Pohon rambutan dan pisang ada hampir di tiap rumah

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Hamparan sawah yang luas yang jadi andalan sandaran hidup warga yang bertetangga dengan bupatinya ini

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Tumpukan kulit padi di salah satu dari 2 pabrik beras yang ada

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Singkong sumber penganan sehari-hari seperti tiwul, gatot, keripik

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Daun singkong muda nan segar ini mudah dijumpai dipasar-pasar di Martapura

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Kelapa sawit pun dihasilkan disini.

Melihat kondisi satu tempat ini saja, bagaimana tidak slogan sumsel sebagai lumbung energi nasional seperti itu jadi terlihat seperti kata pepatah : Jauh panggang dari api.
Yang jadinya terasa malah pemerintah seperti 'menjual' kekayaan tanpa jelas ini akan dirasakan manfaatnya oleh siapa. Oleh masyarakat yang jelas sampai saat ini tidak terasa, apalagi masyarakat di desa. Di kota Palembang sendiri yang terlihat perubahannya hanya banyak mall dimana-mana sekarang, kalau soal listrik masih seperti dulu, sering mati, air bersih juga sulit.


Dalam bayanganku kalau semua daerah bisa seperti Gorontalo, makmurnya Indonesia itu bukan mimpi. Tidak perlu strategi dan slogan yang wah, yang sederhana tapi mengena saja. Sistem otonomi daerah jelas memberikan keleluasaan pemerintah daerah untuk berkreative-rida dalam hal ini. Tujuan otonomi daerah itu kan yang seperti ini, supaya tiap daerah bisa melakukan apa saja yang mereka mau yang sesuai dengan kondisi daerah mereka, bukan malah otonomi daerah dilihat sebagai kesempatan yang lebih luas untuk ’mengatur’ keuangan daerah untuk kepentingan kantong sendiri.